
photo taken from www.myshutterspace.com via google
Aku suka naik bianglala. Pernah merasakan di atas? Di puncaknya? Pernah? Iya aku pernah. Rasanya aku bisa lihat dunia. Iya dunia. Penuh dengan lampu-lampu warna-warni, langit biru dan gumpalan-gumpalan awan. Aku punya rasa takut, takut jatuh terhempas. Ke bawah sana. Ke tanah. Banyak orang yang tidak takut. Mereka sangat menikmati berada disana. Tepat di bawah awan, jauh di atas tanah. Betapa asyiknya ya mereka yang tidak takut ketinggian. Aku iri, ya jelas siapa yang tidak iri kan.
Eh dugaanku benar! Perlahan-lahan aku mulai turun, mungkin menurut petugasnya sudah giliran kali ya. Tak apa lah. Kalau sudah turun rasanya susah sekali ya untuk naik kembali. Eh teman-temanku masih di atas lho. Ah… iri sekali, mereka masih bisa melihat kerlap-kerlip lampu kota yang indah dengan jelas, masih bisa berlindung di bawah awan ketika matahari terik dan masih bisa menari-nari ketika langit biru, sebiru-birunya. Aku? Yaa… hanya menatap mereka dari bawah. Kadang tersenyum kecut.
Hey, tapi lihat! Wahana ini untuk dinikmati bukan? Ya sudah, nikmati saja. Berharap mesinnya tidak berhenti sih, semoga tidak. Ah tidak akan lah, tidak akan berhenti kok, aku yakin. Seyakin-yakinnya. Berani taruhan? Kabel-kabelnya tersusun rapi di dalam, solderannya dijamin rapi. Kondensator, transistor dan resistornya tidak diragukan lagi kualitasnya. Aku baru tau mesin itu ketika berada di posisi 30 derajat.
Ternyata banyak juga teman-temanku yang ada di bawah sini. Ada yang tidak sabar ingin ke atas lagi, ada yang sudah mulai kipas-kipas dengan kertas bekas kalender tahun lalu karena hawanya yang sangat panas, ada juga yang santai saja di bawah bahkan tertidur pulas sambil tersenyum. Aku sudah bilang, wahana ini untuk dinikmati. Jadi ya lebih baik nikmati saja pemandangan di bawah sini. Sambil menunggu waktunya untuk ke atas lagi. Ternyata di bawah sini tidak buruk kok! Lihat deh aku bisa lihat bunga-bunga ini merekah, cantik sekali. Aku bisa lihat rumput-rumput hijau dengan jelas. Tidak seperti di atas hanya terlihat seperti karpet. Aku juga bisa lihat danau dan ikan-ikannya. Coba diatas, mana bisa aku lihat ikan-ikan mas koki seperti ini. Aku juga bisa lihat pasir-pasir pantai yang berkilauan dengan cangkang-cangkang cantik! Wah aku kira disini jelek, ternyata lebih indah. Tidak hanya ada lampu-lampu kota, langit biru dan gumpalan awan. Banyak sekali yang bisa aku lihat dengan jelas. Dan cantik sekali, cantiiiiiik sekali. Kasihan juga ya mereka yang terus di atas. Tidak bisa melihat betapa kayanya dunia ini dan untuk apa wahana ini diciptakan.
Tapi tentu saja aku masih ingin ke atas. Aku kan juga merindukan lampu-lampu kota yang gemerlap, awan yang seperti gulali dan langit yang biruuu sekali. Tapi aku juga suka pemandangan yang lebih spesifik di bawah. Aku bisa mensyukuri apa yang Tuhan ciptakan. Ternyata Dia hebat sekali. Aku ingin berputar, berputar, berputar. Aku tak ingin selalu di atas, aku takut ketinggian. Aku tak ingin selalu di bawah, aku rindu pemandangan di atas. Yah, setidaknya aku mengerti untuk apa bianglala dan mesin tersebut diciptakan. Kamu belum mengerti? Karena kamu belum pernah berada di posisi 30 derajat. Tapi aku yakin, kamu pasti akan berada disana, tapi entah kapan.

It’s time to say goodbye. The hardest part of your life is saying goodbye. We’re such a butterfly. Yesterday, we were a maggot. Today, we are a pupa. Then tomorrow we’re gonna be a butterfly, flying high in the beautiful summer sky. And we will try to reach the clouds and the blue sky. So, it’s a goodbye. After the leafes that we shared together, after the laugh and perfect smile that we showed. But it is not the finish line. It is the start of something new. I wish we can meet again.

